Fanatisme Buta, Benalu Raksasa Kemajuan Bangsa

Peristiwa kemarin, yupe lagi-lagi, nyawa seseorang dianggap tidak terlalu berharga dibanding ego sekelompok fans tim sepakbola kesayangan. Tidak perlu lagi lah kita berpura-pura menyebut mereka oknum, karena memang betul mereka fans dari tim itu. Saking ngefansnya, mereka jadi buta dan edan-edanan.

Disisi lainnya, sejak panas pilgub DKI kemarin, fanatisme buta juga jadi bahan gorengan para punggawa panggung politik kita. Saling fitnah, saling hujat, dilakukan oleh para wayang orang dibawahnya. Lah pantas, para punggawa juga mencontohkannya, seakan tidak malu-malu lagi. Media sosial menjadi medianya. Seakan-akan disitulah semua kebencian mendapatkan jalan tolnya.

Para munafik dan bedebah ini. tidak lagi menjadi munafik ketika jempolnya menari-nari diatas smartphone mereka. Tak peduli betapapun tolol dan bodohnya mereka, smartphone tetaplah smartphone, dan orang bodoh pegang smartphone, tetaplah bodoh seberapapun pintarnya smartphone yang dipegang.

Akhirnya, kemarin semua gumpalan kebencian tanpa dasar itupun kemudian tertuang di atas bumi, dan berhasil menumpahkan darah seseorang hingga nyawanya kehilangan.

Apakah fanatisme pilpres bisa terealisasikan juga, seperti halnya fanatisme viking vs the jak kemarin? We’re waiting and see. Karena polanya sudah terlihat dan terarah.

Yaaaaa. kalau sudah begini kapan bisa maju nih umat? HAHAHA

——–

Beberapa pesan dari saya:

1. Fanatisme berlebih adalah kebodohan.
2. Sibuk-sibuklah membela prinsip daripada membela figur.
3. Jangan biarkan ketololan menyerang intelektual dan daya nalar anda  sampai objektifitas tergerogoti.

Leave a comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: