Categories
Musik

Dewa, The First Indonesian Band I’ve Ever Loved in My Life

Talk about Dewa, it means talk about some parts of my childhood as well. It’s “Cintailah Cinta“, the album which successfully bought my heart to love their songs, and it was on 2002, back to almost two decades ago. I fell in love with every single song in that album.

Categories
Musik

Tentang Single Baru Flukeminimix: “Chariot and the Warriors of Silence”

Bagi yang belum tau band asal Kota Bandung ini, silakan cari tahu dulu karena namanya sudah tidak asing di Google. πŸ™‚

Dan bagi kalian yang suka musik Radiohead, Mogwai, dan beberapa lagu tanpa lirik berdurasi panjang ala ala Pink Floyd atau Sigur Ros mungkin akan tertarik juga dengan apa yang ditawarkan oleh band ini. Terlepas dari benar atau tidaknya mereka terinspirasi oleh band-band di atas, satu hal yang saya sukai ketika musik mereka terdengar melalui headphone saya adalah: nuansa.

Musik yang bagus memberikan nuansa tertentu kepada pendengarnya, Chariot and The Warriors of Silence ini juga. Bukan tipikal musik yang begitu mudah masuk ke telinga semua orang memang. Ini tipikal lagu yang semacam: if you like it you must be like it so much, but if you dont, you must be hate it so much. Take it or leave it.

Untuk bisa menikmatinya memang bukan perkara mudah, perlu perangkat audio yang lumayan bagus (dan itu tidak murah), setelah itu, maka semua sound yang coba dihadirkan akan sangat terasa impact yang ingin disampaikannya, semacam nuansa, mood, dan warna-warni tertentu yang jika mata kita terpejam akan terekam terbayang, seperti tidak ada bedanya dengan video klip yang berjalan seiring dengan durasi musik belasan menit, semua terjadi di alam pikiran kita.

Semacam abstraksi visual. Canvasnya adalah alam pikiran kita yang  terbius dengan instrumen-instrumen musik beralun secara up and down.

Chariot and The Warriors of Silence ini terdengar menyeramkan, bergemuruh tetapi terasa sunyi, dan mencekam, seperti artwork-nya yang sunyi tapi dibawah tanahnya, entah, bisa jadi sangat bergemuruh.

makmalf
Categories
Musik

Hey JKT48, Kok Lipsync Terus Sih?

Suka mikir, sebenernya yg take vocal pas rekamannya itu beneran mereka/dia atau bukan sih. Soalnya, tiap live perform lipsync mulu.
β€” Akmal Fahrurizal (@makmalf) June 19, 2014


Ini berawal gara-gara saya nonton AMI Awards yang tayang di RCTI malam kemarin. Semuanya lancar-lancar aja sih sampai pada giliran JKT48 tampil, kok bisa-bisanya yah mereka masih lipsync di atas panggung AMI Awards yang seharusnya jadi ajang para musisi menampilkan segenap skillnya dalam bermusik. Kok bisa? Kok bisa yah? KOK BISA?

Ok, agak lebay, tapi menurut saya memang benar kalau kualitas para musisi (berlabel major) di tanah air ini agak meragukan. Beralasan tweet saya yang di atas.

Iya sih iya sebenarnya bukan JKT48 saja yang tiap live perform suka lipsync, masih banyak musisi lainnya yang suka lipsync. Jadi mikir lagi, atas dasar apa mereka layak disebut musisi, toh lagunya juga orang lain yang bikin, plus tiap perform lipsync terus. So, kalau udah begitu masih layak gak sih mereka disebut musisi? Kalau nggak, kok bisa-bisanya masuk nominee di AMI Awards. Atas dasar apa coba? Apakah berdasarkan album studio-nya aja yang bahkan vocalnya juga dimixing dan diedit abis-abisan sama komputer? Ah bullshit.

Btw, saya menulis post seperti ini bukan karena saya ingin merendahkan mereka begitu saja tanpa alasan. Karena sejujurnya, saya sebagai orang yang sudah terbiasa menikmati beragam musik sejak kecil berpendapat bahwa penikmat musik yang datang ke sebuah konser musik itu mengharapkan penampilan langsung dari musisi favoritnya. Mendengarkan secara langsung suara mereka ketika bernyanyi dan suara dari setiap alat musik yang mereka mainkan. Kalau setiap live perform mereka malah nyanyi dengan mic yang di switch off atau main gitar yang gak nyolok ke ampli, lantas apa lagi yang tersisa untuk dinikmati?

makmalf
Categories
Musik

Cover Version Malah Lebih Bagus

Yang paling saya suka ketika browsing video di YouTube adalah nyari cover version lagu-lagu terkenal, iseng aja, kerennya malah ada beberapa cover version yang lebih keren dari musisi aslinya. IMHO ya, of course. Here they are.

Smash – I Heart You (Cover version by Funkoff)

Beda banget dan kesannya lebih cerdas ini. πŸ˜€


Daniel Bedingfield – If You’re Not The One (Cover version by Katie Sky and Tom Crouch )

Pembagian vokalnya tingkat dewa


Guns N’ Roses – Patience (Cover version by Karl Golden and Batu Akdeniz)

Suka banget karakter suara si Batu Akdeniz

Segitu aja dulu. Semangat berkarya. πŸ™‚ 

makmalf
Categories
Lagi galau Musik

Ketika Semesta Berkonspirasi

Saya sedang tidak bisa berfikir jernih selama beberapa hari ini. Segala macam aktifitas yang serba mendesak dan serba memaksa, lingkungan yang sedikit demi sedikit mulai berubah, orang-orang, teman-teman, dan entah apakah itu. Semuanya jadi membuat serba canggung dan tidak nyaman untuk ditinggali, mendesak kepala dan merusak ingatan.
Hiruk pikuk sehari-hari malah sedang meningkat akhir-akhir ini, dosen-dosen juga dengan mata kuliahnya yang bisa difahami hanya sampai pada tingkat teraba abstrak, entah itu dosennya, mata kuliahnya, atau entah apakah itu. Semuanya jadi tidak bisa disalahkan, mahasiswa juga tidak mau jika disalahkan. 
Memperhatikan orang-orang, teman-teman, lingkungan, dan entah apakah itu. Membuat saya berusaha berfikir keras meskipun kejernihan fikiran saya akhir-akhir ini jatuh terjun di tingkat keruh pekat. 
Bukan, bukan, sama sekali bukan yang kata orang-orang “bermata satu” itu.
Ini kehendak Tuhan yang mungkin memerintah semestanya untuk berkonspirasi mengatur jalan hidup manusia, saya, orang-orang, teman-teman, dan entah apakah itu melalui perubahan lingkungan, kita tengah berada di bawah sebuah konspirasi besar yang kita belum tahu kemana tujuannya. 
Konspirasi besar yang mengatur seluruh hidup umat manusia, saya, orang-orang, teman-teman, lingkungan, dan entah apakah itu. Semoga masing-masing kita menuju ke arah yang lebih baik meskipun  harus melewati jalan panjang yang melelahkan dengan banyak persimpangan yang membingungkan tapi juga kadang melenakan. 
Sejenak membawa saya teringat pada lirik lagu The Beatles – The Long and Winding Road ini. 
THE LONG AND WINDING ROAD
The long and winding road that leads to your door
Will never disappear.
I’ve seen that road before,
It always leads me here, lead me to your door
Many times I’ve been alone
And many times I’ve cried
Anyway, you’ll never know the many ways I’ve tried
But still they lead me back to the long and winding road.
You left me standing here
A long long time ago
Don’t keep me waiting here,
Lead me to your door
Don’t keep me waiting here,
Lead me to your door
The wild and windy night
That the rain washed away
Has left a pool of tears
Crying for the day
Don’t leave me waiting here (don’t keep me waiting)
Let me know the way.
(lirik from: kapanlagi.com)
makmalf
Categories
Musik

Tentang Salah Satu Judul Lagu The Beatles

The Beatles – Maxwell’s Silver Hammer, pertama kali saya mendengar track ketiga dari album Abbey Road ini, saya langsung suka. Liriknya bagus, musiknya ceria, arrangement-nya keren. Tapi yang lebih saya suka dari lagu ini adalah ketika mendengar McCartney menyanyikan sepenggal lirik yg berbunyi “Writing fifty times, ‘I must not be so'” sambil tertawa. Great idea
makmalf
Categories
Musik

Setiap Lagu Punya Moment-nya Sendiri

Ada banyak kejadian yang akhir-akhir ini saya alami, baik itu pahit, manis, sedih, bahagia, kecewa, maupun biasa saja. Tapi yang akhir-akhir ini, bukan biasa saja yang biasa saja. Well, mungkin gak akan ngerti ya. Tapi biar lah karena bukan itu intinya, karena justru yang ini intinya, saya ingin memberitahukan kepada saudara-saudara bahwa dalam setiap waktu dengan kondisi dan atmosfer emosi yang berbeda-beda itu selalu ada lagu dan musik yang pas untuk menemaninya. Ini lah lagu-lagunya, saudara-saudara. Oh ya, karena sakit hati dan sembuh hati itu akan sama nikmatnya apabila kita menikmatinya. 

Radiohead – Creep

Haha, lagu ini memang selalu yang pertama untuk memulai menikmati kondisi dengan atmosfer emosi yang gak tentu karena merasa being invisible, being looser, putus asa terhadap seseorang. Yah, lagu ini akan saya putar. Saya suka kata-kata yang ada dalam lagu ini, benar-benar menggambarkan diri seseorang yang looser dan totally invisible. Dan parahnya lagi, kenapa bisa lirik ini pas banget sama keyakinan saya akhir-akhir ini terhadap suatu hal. “I don’t care if it hurts, I want to have control.
Pulp – Something Changed
Something Changed, bahkan disaat yang tidak diduga-duga. Termasuk kejadian akhir-akhir ini, perubahan terjadi terlalu cepat bagi saya. Bahkan ketika saya belum siap menerima perubahan itu, seseorang dan sesuatu halnya telah berubah begitu saja. “When we woke up that morning we had no way of knowing, that in a matter of hours we’d change the way we were going. Where would I be now if we’d never met?
The Beatles – Till There was You
Haha, keseharian saya tidak selamanya ada dalam masa kesakithatian. Saya juga kadang ada dalam waktu kesukahatian, saya mengalami itu sejak till there was you. Lagu ini enak, iramanya pas untuk didengarkan ketika perasaan bahagia campur aduk dengan sukacita. “There were birds in the sky, but I never saw them winging, no I never saw them at all, till there was you.” Gombal abis! πŸ˜€ 
Vampire Weekend – White Sky
Jalan kaki ke kampus selama 15 menit, jadi bener-bener waktu yang menyenangkan kalo ditemani lagu-lagu yang semangat macam ini. Pake earphone, lagu ini keren banget instrumentasinya, kualitas rekamannya keren, jadi bukan cuma iramanya saja yang bisa dinikmati, tapi lebih ke audiophile things-nya. πŸ™‚ Gak nyisipin liriknya, karena saya tidak begitu memperhatikan. :p
Suede – Sleeping Pills
Dari mulai intro saja, lagu ini sudah benar-benar terasa kepekatan aura depresifnya. Tidak perlu merasa depresi atau apa, mendengarkan lagu ini membuat saya membayangkan hal-hal yang pernah membuat saya depresi. Kelam banget. Iramanya penuh nuansa kelam, terus vokal Si Brett Anderson yang dapet banget sama feel lagunya, membuat lagu ini kental banget dan kelam banget auranya. “Angel, don’t take those sleeping pills, you don’t need them, though it’s just time they kill.” “Sleeping Pills” pun selalu jadi sleeping pills yang ampuh untuk membuat saya tertidur.
Cris Delanno – Crazy Little Thing Called Love
Ini bukan penyanyi yang begitu terkenal yang mengcover lagu yang begitu terkenal. Ribet ya kalimatnya. Lagu ini biasa saya putar untuk pengantar tidur atau lagi critical listening lah. Yang lebih saya sukai dari lagu ini yaitu audiophile things-nya, suara si Cris Delanno (cewek yah) bener-bener seksi, pake earphone yang model in ear, suaranya bener-bener seperti ngebisik langsung ke telinga kita, sampai suara kecuprak-kecuprak bibir sama ludahnya kedenger nyata banget. Oh well, it just makes me eargasm. πŸ˜€
Cukup itu dulu saja, walaupun sebenarnya masih banyak, dan memang karena terlalu banyak jadi saya stop saja sampai disini sebelum postingan ini jadi terlalu panjang hanya karena membahas macam kurang penting seperti ini. Sip deh, semoga menambah referensi. πŸ™‚
makmalf
Categories
Just for Fun Musik Ulasan Produk

Alasan Kenapa Saya Lebih Suka iPod Dibanding DAP Lain

Sebenarnya kurang penting juga sih, tapi gak ada salahnya meskipun hanya selewat ide yang barusan muncul di otak ini saya coba tuangkan di blog. πŸ™‚
Ada banyak pemutar file audio/media player, di forum-forum audiophile sering disebut digital audio player (kesananya ditulis DAP) yang beredar di pasaran, mulai dari yang murah dan murahan, murah tapi gak murahan (kerhor gitu), mahal tapi murahan, sampai mahal dan berkualitas tinggi. Dan yang saya ingin bahas di sini adalah pengalaman saya sebelum, sedang, dan sesudah memakai ipod touch 4g
Sebelum memakai ipod touch, DAP yang saya sering gunakan adalah Sony Ericsson Cedar. Suaranya lumayan lah, apalagi setelah saya modding audio file systemnya, hasilnya lebih terdengar bagus lagi, dan lebih bertenaga. Tapi tetap ada gak enaknya, entah kenapa, hp Soner Cedar ini ketika saya sedang memainkan lagu lewat earphone, walaupun sudah saya set ke silent, tapi pas ada sms masuk, lagu langsung mati dan dipotong oleh nada dering sms, tentu itu sangat menganggu kenyamanan. Makin merasa tidak nyaman dengan kondisi DAP hp yang seperti itu, akhirnya saya nabung dan memutuskan untuk membeli DAP yang terpisah dari hp, biar lebih nyaman aja mendengarkan musiknya. Pilihan saya langsung jatuh ke iPod Touch, karena sudah cita-cita dari dulu juga pengen nyicipin produk Apple itu rasanya kaya gimana. πŸ˜€

Ok, 6 bulan saya memakai iPod Touch, kesan saya waktu itu, kualitas suara ternyata tidak jauh berbeda dengan DAP soner yang biasa saya pakai sebelumnya, telinga kaleng saya tidak bisa membedakan mana yang lebih berkualitas disisi SQ-nya. Cuma yang tadinya saya pakai earphone Phillips (lupa type), kini lebih sedikit terangkat SQ-nya dengan earphone putih bawaaan iPod. Bassnya lebih kuat dan gampang diangkat oleh kedua DAP. Karena ada iPod, jadinya saya tidak pernah mendengarkan lagi lagu dari DAP Soner itu. 
Well, beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk menjual iPod Touch kesayangan itu dan sekarang SOLD OUT. Mau tidak mau, mulai lagi saya mendengarkan musik lewat DAP Soner Cedar, satu-satunya DAP yang tersisa memang (laptop gak diitung). Tapi ada yang menarik dari si Cedar ini, setelah telinga saya terbiasa mendengarkan SQ yang dimiliki oleh iPod Touch, pas saya balik lagi mendengarkan musik dengan DAP Cedar ini, saya dan telinga saya harus berkata jujur bahwa SQ si Cedar yang sudah dimodding ini ternyata lebih baik daripada iPod Touch. Power outputnya sepertinya lebih besar, terbukti apabila di pair dengan IEM Superlux HD381b, volume maksimal, keluaran suara lebih keras di Cedar, tapi tidak menutup kemungkinan loh adanya faktor lain dari terjadinya kasus seperti ini. Selain itu, telinga saya juga merasakan kalau bass yang dihasilkan oleh DAP Cedar ini ternyata lebih bertenaga dibandingkan iTouch meskipun sudah diset eq ke bass booster. Saya tes menggunakan IEM Superlux HD381b, kuantitas bassnya akan lebih terasa banyak jika di pair dengan Cedar, tapi gak berarti boomy juga lho. Intinya, mendengarkan musik lebih enak di Cedar daripada iTouch dengan catatan bisa mentolerir sms bomber yang sering mengganggu kenyamanan telinga saat mendengarkan musik. 
Sempat saya mencoba DAP The Kube, SQ-nya jauh lebih hebat daripada Cedar ternyata, menurut telinga kaleng saya, The Kube itu jauh lebih wide, suara yang dihasilkannya terkesan open meskipun saya tes menggunakan IEM yang sama yaitu HD381b. Minusnya, gak ada layar dan daya tahan batere cuma 3 jam play. Harganya? tentu saja jauh lebih murah daripada Cedar, secara DAP kerhor.
Ternyata ada banyak pilihan DAP lain selain iPod meskipun dengan harga yang jauh jauh jauh lebih murah tapi SQ jauh lebih hebat daripada iPod, tapi tetap saya harus berkata jujur bahwa iPod adalah DAP yang lebih saya sukai dibandingkan DAP yang lain yang pernah saya coba. Alasannya? Manajemen file yang sangat mudah, cepat, dan nyaman, karena semua diatur oleh iTunes. Yappp, saya juga sering mendengarkan lagu dari laptop, player favorit saya iTunes. Tentu saja di itunes library-nya itu sudah terisi ratusan lagu favorit saya, jadi dengan iPod saya tidak perlu repot-repot kasak-kusuk mencari file lagu yang ingin dimasukkan ke DAP diantara ratusan tumpukan folder file mp3 lain yang bertebaran di harddisk saya yang penuh itu, tinggal colok ipod ke laptop, sync, semua lagu masuk ke iPod.
Ada niat untuk membeli lagi iPod Touch, tapi lebih baik jangan, uangnya mending dipakai untuk tujuan awal. Ada niat juga untuk membeli iPod Classic 5th gen 120GB, tapi lebih baik jangan, Classic menggunakan harddisk sebagai media penyimpan datanya, saya takut jika sewaktu-waktu harddisknya itu bisa saja bad sector karena terjatuh dan terbentur. Belum lagi di forum-forum banyak yang mengeluh tentang masalah yang dialami oleh iPod Classic 5th gen itu, semua sama problemnya, harddisk mudah bad sector meskipun tidak pernah terjatuh atau apapun. 
Akhirnya, saya memutuskan, untuk DAP iPod saya pasti lebih memilih iPod Touch, ataupun kalau ada yang bekas dengan harga miring, boleh lah iPod Video 5.5 gen, karena sudah terbukti ketangguhannya dan SQ-nya yang lebih baik daripada type iPod lainnya, di forum-forum banyak user yang pakai. Karena iPod Video udah discontinue, jadi kalau ada uang lebih, saya pasti memilih iPod Classic 6th Gen 160gb, so far, belum ada banyak user yang mengeluh mengalami bad sector harddisk. πŸ™‚  
Karena suatu hal, apabila saya lebih memilih membeli DAP lain selain iPod, maka pilihan saya jatuh ke Sansa Clip+. Tapi meskipun begitu, dibanding DAP lain yang nantinya akan menjadi pilihan saya, DAP yang akan lebih saya sukai tetap iPod,  ya iPod type apapun itu. πŸ™‚
makmalf
Categories
Lagi galau Musik

Tentang Danus dan Inspirasi dari Seorang Pengamen

Mengadakan sebuah kegiatan atau acara kampus atau kegiatan lainnya memang tidak pernah lepas dari yang namanya anggaran, dana, bantuan, sponsorship, dan budget dalam kurung uang. Semuanya itu adalah masalah uang. Ada uang, semua solusi terpecahkan. Kasarnya seperti itu. 
Maka ketika uang belum terkumpul dan ketika waktu pengadaan kegiatan sudah semakin mendekat, semua orang dibuat ketar ketir, mencari uang kesana kemari, ada yang ngejar-ngejar sponsor, dan bahkan NGAMEN. Ya ngamen. Oh well, Ok, ngamen. 
IMHO. Sebagian orang mungkin tidak mempermasalahkan dan berpikiran bahwa ngamen memang sah-sah saja dilakukan oleh -bahkan- seorang mahasiswa dalam rangka mengumpulkan uang untuk kegiatan kampusnya. Dan ini masalahnya, saya cenderung merasa berpikir bahwa tidak seharusnya lah mahasiswa seperti itu. Oh come on, memang, memang terbukti bahwa dengan ngamen seperti itu uang untuk kegiatan mudah sekali didapat apalagi yang nyanyinya mahasiswi (JANGAN BERKONOTASI NEGATIF), tapi coba lah jangan seperti itu, jangan terlalu membiasakan diri dengan kemudahan melewati shortcut. Masih banyak cara yang ada meskipun memang lebih sulit dan akan sedikit menguras otak. Tapi justru itu tujuannya kan? Segala tek tek bengek kegiatan yang kita lakukan juga bertujuan untuk membuat kita belajar melatih kemampuan intelektualitas kita bukan? Kalau bukan, ya udah silakan ngamen.
Dan ya, ada yang terlewat. Dan sedikit pindah bahasan juga. 
Saya tidak membenci pengamen yang memang sehari-harinya bekerja sebagai pengamen. Saya termasuk orang yang menghargai mereka. Ketika dalam sebuah bus atau di manapun, pengamen datang dan memainkan beberapa lagu dengan suaranya dan permainan alat musiknya yang memang bagus, saya membuka earphone yang sebelumnya menutupi kedua telinga saya, mendengarkan mereka, dan tentunya itu akan menjadi penghargaan yang lebih bagi mereka. Dan saya benci dengan orang-orang yang malah mengacuhkan mereka. 
Dan terimakasih untuk seorang pengamen bermental kuat yang entah berapa sering dia diacuhkan oleh para pengunjung angkringan kampus di malam itu dan malam-malam serta hari-hari lainnya.

#no offence, just my humble opinion
makmalf
Categories
Musik

Some Reasons Why I Really Love “Radiohead” (UPDATED)

But I’m a creep..

I’m a weirdo..
What the hell I’m doing here?
I don’t belong here..
(Radiohead – Creep)
Selain hobi banget nonton film, saya juga terlalu hoby mendengarkan musik. Dan berbicara tentang musik, Radiohead adalah band yang paling saya sukai dari dulu, jauh-jauh hari tahun. Tepatnya ketika MTV masih jaya-jayanya jadi satu stasiun tv khusus musik yang paling berpengaruh di dunia musik Indonesia. Kenapa saya bilang berpengaruh? Tidak akan saya jelaskan, karena akan terlalu jauh dari topik yang mau saya bahas. πŸ˜€
Ya, pertama kali saya tahu Radiohead pada waktu masih SD, lupa kelas berapa. Pokoknya gara-gara waktu itu, anak-anak seumuran lain masih nonton Doraemon, saya sudah sering nonton acara-acara di MTV. Tapi, ya jaman SD, saya masih terlalu cupu untuk mengerti lagu-lagu Radiohead, jadi waktu itu hanya sebatas tau saja. Mulai sangat suka sebenarnya sejak SMA kelas dua, waktu itu internet sudah masuk rumah, kebetulan hobi nge-band jadi suka googling segala macam band. Bertemulah dengan Radiohead yang langsung pas kena di kuping saya. πŸ˜€

Dan lagu pertama yang menjadi penanggung jawab kenapa saya begitu suka Radiohead adalah “Creep.” πŸ˜€
Liriknya yang sarat luapan emosi, keputusasaan, being loser, benar-benar jujur. Belum lagi noise-noise gitarnya si Johnny Greenwood dan teriakan panjang si Thom Yorke selalu bikin saya merinding, apa lagi pas nonton video live concert-nya. πŸ™‚

Seterusnya, setelah mendengar “Creep” berulang-ulang kali waktu itu, akhirnya saya mencoba mencari hits-hits Radiohead lainnya, sebut saja seperti “No Surprises” dan “Fake Plastic Tree” yang sukses membuat saya semakin jatuh cinta  pada Radiohead. “No Surprises” lagunya galau galau gimana gitu, aransemennya sederhana banget, liriknya dalam banget, tentang seseorang yang ingin jauh dari keramaian, semacam alienasi diri, begitulah kira-kira. Bahkan saking enaknya, lagu itu masih sering saya dengarkan berulang-ulang sampai sekarang.

Selain itu, ada lagi beberapa hal yang membuat saya kagum pada band asal Inggris ini:

THOM YORKE yang mengisi bagian vokal dan sesekali sambil main gitar dan piano ini punya karakter suara yang  khas dan unik. Belum lagi ekspresi dan penghayatan dia terhadap lagu yang sedang dinyanyikannya, bener-bener selalu sukses bikin saya merinding.

JOHNNY GREENWOD di Radiohead ini kayanya menurut saya adalah orang freak kedua setelah Thom Yorke. Dia jago menciptakan arransemen yang selalu khas dan unik disetiap albumnya. Cara  dan gaya si Johnny bermain gitar itu sungguh sangat berbeda dari gitaris-gitaris lainnya. Dia juga jagonya dalam menciptakan sound-sound elektrik efek yang aneh. Oh ya, Om Johnny ini termasuk musisi multi instrumental juga, buktinya, dalam sekali manggung dia terlihat memainkan banyak macam alat musik, mulai dari gitar, piano, tom-tom sampai xylophone.

Menurut saya Radiohead adalah SEKUMPULAN ORANG-ORANG FREAK yang selalu bikin hal-hal yang gak kalah freak dalam setiap konser, video klip, dan lagu-lagu di albumnya. Freak disini bukan berarti hal yang negatif, tapi lebih ke nyeleneh dan diluar dugaan. Lihat saja video klip “No Surprises” ini, siapa yang akan nyangka kalau si Thom Yorke akan melakukan sesuatu hal diluar dugaan sebelumnya. Hitung saja, berapa menit dia nahan nafas di dalam air. Gila! Tidak cukup itu, kegilaan mereka ditunjukkan lagi dengan cara mereka menjual salah satu albumnya (“In Rainbow“) yang terbilang baru, yakni pembeli lah yang sesuka hati menentukan harga albumnya, bukan dari pihak marketing resminya.

MUSIKNYA BUKAN MUSIK BIASA apabila dibanding dengan musik khas genre mainstream yang sekarang sedang menjamur. Ya meskipun memang musik di album pertama Radiohead  yang berjudul “Pablo Honey” adalah album dengan kumpulan musik yang terlalu biasa dan terkesan hanya pop rock biasa, tapi coba dengarkan album-album selanjutnya, mereka lebih terdengar jauh dari aliran mainstream, tapi anehnya malah lebih banyak orang yang menyukai musik mereka. Dengarkan “Fitter, Happier” mungkin teman-teman akan mengerti kalo musik mereka bukan sembarang musik. πŸ™‚

Tidak sedikit dari lagu-lagu Radiohead yang mempunyai CHORD RUMIT DAN NADA-NADA MINOR YANG CAMPUR ADUK DAN UNIK, contohnya, “Paranoid Android” “My Iron Lung” dan “Just” serta masih banyak lagi tentunya. Bisa menemukan chord yang sesuai dengan lagu-lagu itu tentunya jadi kepuasan tersendiri. πŸ™‚

ARANSEMEN MUSIK YANG MEGAH terdapat pada banyak lagu Radiohead. Dalam setiap lagunya, dinamika emosi yang naik turun bisa sangat terasa. Contohnya, dengarkan saja lagu “The National Anthem” yang beraransemen super megah. Dengarkan juga “Exit Music (For a Film)” atau “(Nice Dream)” dan masih banyak lagi yang lainnya.

Karena keunikan kreasi mereka, akhirnya, karya-karya musik mereka selalu menuai pujian dari berbagai pihak. Salah satunya adalah album “Ok Computer” dan “In Rainbow” yang dinobatkan sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa dan meraih penghargaan sebagai Best Alternative Album pada ajang Grammy Awards. Dan pada Grammy Awards tahun ini juga, album terbaru “The King of Limbs” berhasil masuk 5 nominasi sekaligus, Best Alternative Music Album, Best Rock Performance dan Best Rock Song untuk lagu “Lotus Flower,”  Best Boxed or Special Limited Edition Packaged, dan yang terakhir adalah Best Short Form Music Video untuk lagu “Lotus Flower.”

makmalf