Categories
Akademik Artikel Serius Pengetahuan

Pendidikan untuk Investasi

Ketika saya iseng membuka-buka kembali beberapa tumpuk majalah PC-Media yang sempat saya langgan beberapa tahun sejak 2009 sampai akhir 2011, saya terhenti pada sebuah rubrik yang kala itu menjadi salah satu inspirasi saya untuk memilih dan menimba ilmu di jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI.

Sebuah tulisan yang berjudul: “Pendidikan TI bukan Investasi!” Bernaridho Hutabarat adalah penulisnya. Tulisan ini bisa ditemukan di PC-Media terbitan Februari 2010 pada rubrik Viewpoint. Saya sangat suka ketika Bernaridho sendiri adalah seorang penggiat TI, tetapi malah merekomendasikan seseorang untuk masuk Elektro saja. Karena? Lulusan TI telah banyak bersaing dengan alumnus non TI. Karena TI secara praktis, bisa dipelajari secara otodidak. Hal itu yang mengurangi nilai invest-nya.

Dan sekarang 2016. Sudah lumayan usang juga, ketika seorang calon mahasiswa yang kala itu masih belum tahu apa-apa tentang dunia perkuliahan dan dunia sesudah wisudanya. Masih cupu dan nggak tahu bagaimana kerasnya dosen-dosen teknik. Tapi mampu memantapkan hati untuk tetap masuk Pendidikan Teknik Elektro UPI.
Berbekal basic elektro yang tidak ada sama sekali, kebingungan pun melanda pada awal-awal perkuliahan sampai semester 5. Tapi bagusnya, saya memiliki minat yang lebih pada dunia TI, khususnya web development, dan saya mampu belajar secara otodidak. Akhirnya, mulai tahun 2012 saya memantapkan diri saya untuk berfreelance dalam bidang WordPress Theme Development. Sampai sekarang. Freelancing saya sudah mencapai belahan globe lainnya. Beberapa project bule dari Prancis, Kanada, Amerika, Inggris sampai Zimbabwe, sudah saya kerjakan. Alhamdulillah. Mereka tidak tahu bahwa saya hanyalah seorang yang tidak mempunyai background sama sekali di bidang Teknik Informatika. 🙂
Akhirnya, tepat Desember 2015 kemarin saya berhasil wisuda. Meskipun lumayan telat, karena sudah banyak teman-teman seangkatan yang sudah wisuda dari 2014. Tapi tidak apa, karena ketika Februari 2016 datang, langsung menyambut saya untuk memasuki dunia pekerjaan menjadi seorang guru honorer di SMKN 1 Talaga jurusan Otomotif. 
Ya, saya nggak typo, Bukan TKJ, RPL, ataupun Elektro, tetapi OTOMOTIF. Di otomotif saya mengajar kelistrikan dan gambar teknik yang tentu saja materi dari kedua mata pelajaran itu adalah salah sebagian yang dipelajari di waktu saya kuliah dulu.
Pendidikan Teknik Elektro. It is the real investment, isn’t it? 🙂
makmalf
Categories
Artikel Serius Pemrograman Pengetahuan Tips Wordpress

Ketika “Hasil” Lebih Berharga Daripada “Proses”

Well, sebenarnya saya agak bingung mau memberi judul post ini apa. Tapi intinya, di post ini saya ingin berbagi pendapat mengenai beberapa celotehan kaskuser yang barusan saya baca di thread berikut.

http://www.kaskus.co.id/thread/5343ee1dffca17f3148b460a/nasib-web-developer-indonesia

Inti yang saya tangkap dari sekian banyak argument para commenter kenapa jasa web development di Indonesia sangat murah dari thread itu adalah:

Harga pasar web development rusak karena makin banyaknya anak-anak IT “jejadian” yang menawarkan jasa web development dengan harga MURAH (kisaran Rp. 200.000 – Rp. 400.000), padahal yang mereka lakukan hanyalah install WordPress dan edit theme premium yang udah dibikin NULLED.

Oke, memang miris, dan wajar saja beberapa kalangan IT “asli” yang udah lebih lama menggantungkan pendapatannya di bidang pekerjaan ini jadi sewot-sewotan dan seperti kebakaran janggut (kalo yang punya janggut.) karena semakin berkurangnya segmen pasar mereka. Padahal mereka telah bayar mahal untuk kuliah IT mereka, mereka telah cape-capean ngoding CMS sendiri untuk digunakan di web client mereka.

Masalah yang didebatkan pun merembet sampai ke:

CMS bikinan sendiri vs CMS public yang open source (Misal, WordPress, Joomla, dan Blogspot.)

Ini yang saya singgung di judul, di dunia kerja sering sekali kita mengalami waktu “ketika hasil lebih berharga daripada proses.” Kenapa seperti itu? Saya bilang seperti itu karena saya sudah mengalami sendiri pahitnya ketika terkadang mendapat bayaran kurang padahal pekerjaan yang dilakukan membutuhkan beberapa requirement yang lebih dan sisi teknis yang juga rumit. Saya juga mengalami manisnya, ketika terkadang untung mendapat bayaran mahal padahal yang saya kerjakan hanyalah instal WordPress dengan sedikit custom theme bawaan milik WordPress.

Beberapa hal di bawah ini menjadi penyebab kenapa hal itu bisa terjadi.

Mostly, client merupakan tipe orang yang result oriented

Tidak jarang ketika client yang sedang melakukan proses negosiasi menunjukkan perbandingan harga di lapak lain ketika harga yang kita tawarkan jauh lebih mahal daripada harga yang menjadi ekspektasi client bersangkutan.

Ini terjadi karena client tidak memahami sisi teknis dibalik setiap halaman website yang menjadi referensinya. Mayoritas client hanya melihat dari segi visual dan apa yang mereka terima saja. Jika website yang dibuat telah sesuai dengan keinginan dia, dia tidak peduli (bahkan masa bodoh) dengan CMS apa yang dipakai: buat dari awal kah atau hanya pakai WordPress (misal). Client juga nggak peduli ngerjain websitenya sampai belain begadang atau enggak. Ya client masa bodoh lah dengan semua itu.

Solusinya: kita sebagai pekerja seharusnya bisa menentukan requirement yang diperlukan. Jika sekiranya yang diinginkan oleh client hanya lah web company profile biasa tanpa ada fitur semacam blog yang lebih menuntut untuk website menjadi dinamis, kenapa harus ribet-ribet bikin CMS dari awal? bahkan tanpa instal WordPress, psd to static html template pun jadi. Client senang, kita pun nggak sewot-sewotan kalau misalnya dibayar 700rebu doang. 

Sebaliknya, kalau website yang diinginkan client ternyata membutuhkan kerumitan teknis yang lebih dan client keukeuh nawar harga 500rebu (padahal target minimal tarif kita adalah 3juta). Ya sudah, jangan diambil. Tapi beri dulu pengertian kepada client tersebut bahwa apa yang dia dapatkan akan sebanding dengan apa yang dia keluarkan untuk website jenis tersebut. Jangan lupa sisipkan link tutorial membuat website jenis tersebut via email, beri saran untuk bikin websitenya sendiri aja dulu, biar client macam ini tahu susah membuatnya website yang dia inginkan itu. Ujungnya bakal balik nanya-nanya lagi ke kita.

Dan saya yakin, tipe anak IT “jejadian”, kalo gak niat belajarnya, gak akan pernah bisa kesampaian membuat website semacam itu. Misal, Vogue dan Time Magazine. Anyway, dua website itu memang pakai CMS WordPress tapi pasti udah dicustom sampai tingkat advance. Segmen pasar kita masih aman bros. Mesikpun gak harus coding CMS, hanya melakukan development plugin dan theme saja sudah lumayan mengurangi waktu yang tersita dibandingkan kita harus membuat custom CMS dari awal.

Kalo sudah mampu membuat requirement yang pas, pekerjaan pun bisa jadi lebih sederhana, dan kita pun bisa fokus mengembangkan fungsionalitas lainnya dari web yang si client bersangkutan itu inginkan. Simple. Nawar tarif 3juta ditebus 2,5juta juga kita bisa lebih bersyukur kan, gak akan sewot-sewotan. :))

Intinya, pegang saja pemahaman bahwa client adalah tipe orang yang result oriented. Idealism is not required. Idealisme cukup digunakan sewaktu kita kuliah bikin tugas akhir dan/atau skripsi saja lah. :))

Mostly, client tidak memperhitungkan atau bahkan tidak tahu bahwa ada biaya operasional dan berbagai macam tool yang dibutuhkan untuk membuat sebuah website


Seperti internet, buku referensi, laptop, milimeter blok untuk membuat wireframe design, sampai Adobe Photoshop (jika yang digunakan bukan bajakan) untuk merancang tampilan front end. Bahkan client pun pasti nggak akan kepikiran biaya berobat kita karena sakit terlalu sering begadang ngoding bikin custom CMS sendiri untuk website-nya. :))

Tapi, seperti masalah yang dibahas oleh TS thread kaskus itu. Yang menjadi masalah utama kenapa harga untuk jasa development di Indonesia sangat jauh di bawah negara lainnya yaitu: Isu legalitas

Jujur saja dan menjadi asumsi umum juga bahwa -misal- Adobe Photoshop yang kita gunakan untuk mendesign halaman web adalah bajakan. Artinya, cost of production untuk aplikasi tersebut tidak lagi menjadi bahan perhitungan harga akhir dari jasa development sebuah website. Di samping itu, makin merebaknya IT “jejadian” yang menggunakan theme dan plugin premium bajakan, makin menambah suram saja harga jasa web development kita.
Gegara ini pun, banyak dari rekan-rekan kita sesama web developer yang lebih tertarik untuk membuka lapak online-nya di luar negeri. Dengan asumsi bahwa client di sana lebih “pintar” dan memahami biaya operasional dari semua tool yang kita butuhkan untuk membangun sebuah website.
Solusinya: seperti yang telah disinggung di atas. Mulai coba bermain proyek di mata uang dollar. Membuat (misal) WordPress Theme premium yang banyak dengan fitur yang advanced kemudian pasang lapaknya di Theme Forest. Dan mulai mempertimbangkan untuk mencari rekan satu tim dengan konsep pemisahan bagian pekerjaan. Bentuk tim dengan anggota paling tidak marketing, designer, dan kamu sebagai programmernya agar kamu bisa fokus mengembangkan fitur yang advanced sesuai imajinasi kamu. Bermain di mata uang dollar, tentunya saingan lebih banyak, harga juga lebih kompetitif tapi tetap masuk akal. 

Client yang pro akan bekerjasama dengan developer yang pro juga

Seharusnya kalau kita seorang developer yang pro, artinya mengerjakan apa yang diinginkan client dengan lunas dan tuntas sesusai kesepakatan, harusnya client tersebut akan menjadi consumer tetap kita. Client itu pun akan merekomendasikan kita apabila suatu saat rekan-rekannya ingin dibuatkan website juga. Dan client pro yang saya maksud di sini adalah client yang memang telah benar-benar menyiapkan budget yang pantas dengan jenis website yang dia inginkan. Client pro seperti ini, sesuai dengan pengalaman saya, bisa berasal dari perusahaan atau sesama freelancer di bidang lain. Client jenis ini biasanya merupakan client yang pintar, penuh perhitungan matang, dan pengetahuan teknis mendasar yang cukup terhadap jenis web yang dia inginkan. Dia seminimalnya memiliki konsep yang matang tentang apa yang harus ada dalam websitenya tersebut.
Masalahnya, kebanyakan, client seperti ini sangat jarang melirik developer-developer skala kecil, apalagi freelancer anak kemarin sore yang ngoding html+css aja masih terbata-bata. Kalo nggak rajin jemput bola, jangan harap, freelancer yang tidak memiliki eksistensi kuat di dunia maya bisa mendapatkan proyekan ideal seperti ini. Ya memang itu masalahnya. Eksistensi freelancer apalagi yang perseorangan masih kalah telak dibanding perusahaan-perusahaan yang memang fokus bergerak di bidang web development.
Solusinya: cobalah aktif di dunia maya, membuat berbagai macam publikasi online tentang hal-hal yang berkaitan dengan web development, website pribadi, resume dan portfolio online, ngetweet yang berkualitas, it takes time and so much effort sih pasti. Tapi minimal, ketika seseorang mengetikkan “web developer jakarta” di google misal, nama kamu ada di page one lah. Atau ketika teman kamu mengetikkan nama lengkap kamu di google, seminimalnya yang banyak muncul adalah beberapa situs yang merujuk kamu adalah sebagai web developer, jangan akun social media melulu. :))
***
Intinya, memenuhi keinginan client secara berkualitas itu adalah satu-satunya hal yang menjadi fokus kita dalam mengerjakan proyek website-nya. Jangan mentang-mentang mampu membuat custom CMS sendiri jadinya malah setiap proyekan kamu harus membuat custom CMS sendiri, ya itu juga salah. Tentukan requirement aja sih, kalo websitenya gak sampe seribet https://www.google.com, jangan gengsi pake CMS public lah. Kalo kamu beralasan pake CMS public yang open source gitu security-nya gak bagus. Ah masa? White House juga pake Drupal kok, berarti kasian dong developernya cupu dan webnya gampang dijebol. Tuh kan. :))
makmalf
Categories
Artikel Serius Pengetahuan Tips Wordpress

Pahit Getir Menjadi Seorang WordPress Theme Freelancer

Menjadi seorang freelancer ternyata bukan hal yang mudah, meskipun bekerja dengan waktu yang bisa kita tentukan sendiri, tidak perlu ke kantor dengan berkemeja rapi. Tapi, tetap saja memiliki beberapa kesulitan tersendiri yang hanya bisa dicari dan diterapkan solusinya oleh diri kita sendiri.

Berawal dari pahit getir yang saya rasakan selama kurang lebih 1 tahun menjadi seorang freelancer, saya menemukan semacam rules yang seharusnya bisa digunakan disaat kita mengawali karir, khususnya untuk freelancer yang menjual jasa sebagai WordPress Theme Developer, just like what I’m doing.

Terlalu Murah Menentukan Harga

Dalam menentukan harga, saya memang melihat dulu dari sisi kerumitan produk yang diinginkan oleh client. Jika menurut saya itu mudah, maka saya jual murah, jika rumit maka saya jual mahal.

Seiring waktu, bertambah pengalaman dan ilmu pemrograman, permintaan client yang dulu saya bilang rumit kini menjadi mudah, dan yang dulu saya bilang mudah kini menjadi terlalu mudah. Saya mulai menemukan masalah, yaitu: adalah harga yang tidak ikut berubah. Dengan asumsi rata-rata ada 3 proyek yang saya tangani tiap bulan, alhasil pendapatan saya cenderung datar-datar saja, nyaris tidak ada peningkatan.

Just share:

  • Untuk jasa convert PSD to WordPress Theme, dulu sampai sekarang saya hanya pasang harga 500.000 – 800.000 rupiah.
  • Untuk jasa pembuatan website WordPress dari awal, dulu sampai sekarang saya hanya pasang harga 1.000.000 – 1.300.000 rupiah.

Dan ketika saya bertanya tentang masalah ini kepada seseorang yang sudah lebih dulu menjadi seorang freelancer di bidang yang sejenis. Dia menjawab seperti ini:

  • Untuk jasa convert PSD to WordPress Theme, 2.000.000 – 5.000.000 rupiah.
  • Untuk jasa pembuatan website WordPress dari awal, 5.000.000 – 12.000.000 rupiah.

Btw, harga sebesar itu dia pasang dari awal merintins karir. Well, you see, sangat tidak sebanding dengan pendapatan saya selama ini.

Dan beberapa hal yang saya pelajari dari masalah ini adalah:

  • Beberapa freelancer yang kita kenal (baik secara online maupun offline) bisa saja menjadi seorang tutor yang berguna bagi kita dalam menentukan harga.
  • Jangan pernah mematok harga dari tingkat kesulitan/kerumitan sebuah proyek. Tapi yang dipertimbangkan adalah waktu, biaya operasional (seperti internet, ongkos kalau harus ketemuan dengan client yang lokasinya jauh dari jangkauan kita), dan bila perlu, harga tools yang digunakan jika itu memang tidak gratis (seperti laptop, photoshop, dremweaver, etc).

Ditawar Sadis oleh Client (Kaskuser, baca: Di-afgan-in oleh Client)

Tidak jarang, client yang bersifat perseorangan juga meminta jasa saya untuk dibuatkan website pribadinya. Biasanya, tipe client yang seperti ini tidak mau keluar uang banyak hanya untuk sebuah website pribadi saja. Jadi tidak aneh jika harga yang sudah kita tawarkan malah ditawar lagi oleh dia secara habis-habisan, bahkan pernah sampai setengah harga.
Saya pun menemukan beberapa tips untuk menangani situasi seperti ini.
  • Yakinkan pada client bahwa harga yang dia keluarkan akan sebanding dengan apa yang dia akan dapatkan.
  • Tunjukkan portofolio website pilihan kita yang paling kita anggap bagus, sesuai dengan kebutuhan dia, dan sesuai dengan harga yang kita tawarkan.
  • Beberapa proyek dengan harga yang sangat jauh di luar batas standar harga sebenarnya, dalam beberapa situasi finansial yang mendesak, kadang terpaksa harus kita ambil. Jadi ya, ikhlaskan saja lah. 🙂
  • Jika harga sudah deal, meskipun itu sangat jauh di bawah standar, tetap kerjakan proyeknya dengan maksimal untuk hasil yang terbaik. Walau bagaimanapun, ujung tombak dari nama baik kita sebagai freelancer adalah pada hasil pekerjaan-pekerjaan yang telah kita lakukan sebelumnya.
Adapun hal-hal penting yang harus jadi pertimbangan kita dalam melakukan negosiasi:
  • Pertimbangkan kondisi finansial kita saat itu. Jika tidak terlalu mendesak dan tidak butuh tambahan uang, harga yang ditawar sadis oleh client lebih baik jangan kita ambil. Itu untuk mempertahankan kesan profesionalisme kita di mata client. 
  • Menurut saya, discount 20% masih sangat masuk akal, apalagi untuk proyek yang berbudget besar. Jangan sampai kita hiraukan, apalagi bisa menambah portofolio proyek-proyek besar yang telah kita kerjakan.
  • Client yang professional akan mempercayakan proyeknya pada orang yang professional juga. Jadi jika menemukan client yang sudah tidak professional bahkan dalam proses negosiasi, acuhkan saja. Dan bilang, “Maaf, saya tidak akan bekerja selama 2×24 jam untuk bayaran yang sama sekali tidak akan bisa menutupi biaya operasional saya untuk bekerja selama itu.
  • Tawarkan opsi lain yang less-feature seperti: “Pak, saya bisa ambil harga segitu tapi salah satu fitur yang bapak inginkan ini, (sebutkan fiturnya) sudah tidak lagi termasuk di dalamnya. (Jelaskan lagi alasannya bila perlu).”

Tidak Dibayar Tepat Waktu

Ini sangat sering terjadi, terutama untuk client yang tidak pernah melakukan offline meeting dengan kita. Jika hal ini terjadi dan sudah semakin berlarut-larut, beri pengertian pada client bahwa kita telah mengerjakan proyeknya sebaik mungkin dan menyelesaikannya sesuai deadline. Jika tetap tidak dibayar, berikut langkah-langkah yang biasa saya lakukan.
  • Buat super admin baru untuk kita gunakan, jaga-jaga jika client merubah password wp-admin nya karena berniat kabur. Jangan lupa, ganti password cPanel juga.
  • Tutup saja situsnya untuk sementara waktu sampai pembayaran dilunasi dan redirect ke 404 atau ke halaman notifikasi dan tulis “Site is under development, because there’s still a payment issue.” atau semacamnya. LOL
  • Beri pengertian pada client bahwa situs akan kembali dibuka dan password akan diberitahukan jika pembayaran sudah dilunasi.

Bekerja Melebihi Jam Aktif Kantor

Meskipun freelancer bisa dengan mudah menentukan jam kerja, tapi untuk beberapa situasi, seorang freelancer bisa saja bekerja lembur bahkan melebihi jam aktif kantor (8 jam = jam 9 pagi – 5 sore). Saya pun pernah mengalami hal seperti ini. Wajar memang, apalagi jika kita masih kuliah dan dituntut oleh rutinitas lain di luar rutinitas kita sebagai freelancer. Bahkan bekerja lembur seperti itu juga memang diperlukan ketika yang dijadikan patokan kita adalah adanya proyek lain yang sudah terlanjur masuk dalam waiting list
Jika waktu bekerja kita sudah sangat menyita waktu istirahat kita, atur lagi waktunya, dan buat semacam list of priorities. Mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang masih bisa ditunda.
makmalf
Categories
Pemrograman Pengetahuan Tips

Instalasi Sass dan Setting Sublime Text 2 untuk Sass Coding Environment (Bag. I)

By the way, dulu saya tidak begitu tertarik menggunakan CSS Preprocessor macam Sass ini. Tapi seiring waktu, beberapa proyek website yang saya buat membutuhkan rekayasa CSS yang lumayan kompleks. Daripada kesel sendiri memikirkan efisiensi coding CSS yang maksimal, akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari Sass.

Berikut langkah-langkah instalasi Sass di Windows.

Install Ruby

Sass hanya bisa berjalan jika Ruby telah terinstal di komputer kita. Cara instalasi yang paling mudah, silakan download Ruby-nya di sini.

Install Sass

Pastikan komputernya masih tersambung dengan internet, kemudian jalankan Command Prompt. Dan tulis perintah ini:
gem install sass
Perintah itu untuk mendownload package Sass. Jadi sabar aja ya, untuk kalian yang koneksi internetnya lemot. LOL.
Jika sudah ada notifikasi sukses, lanjut tahap berikutnya.

Install Compass

Sass itu udah keren, tapi akan tambah keren lagi jika disandingkan dengan Compass. Kelebihannya bisa digunakan untuk ngulik CSS Image Sprites. Masih di Command Prompt. Tulis perintah ini untuk download package-nya:
gem install compass

Recheck The Installation’s Status

Pastikan lagi kalo Sass dan Compass-nya sudah berhasil diinstall dengan perintah ini:
sass -v
gem -v
Pastikan akan muncul seperti ini:

Build up The Environment

Ini langkah terakhir sebelum kita bisa memulai ngoding.
Ketikkan perintah ini di Command Prompt:
mkdir makmalf-compass     // membuat direktor bernama "makmalf-compass"
cd makmalf-compass     // memasukkan "sesuatu" ke dalam direktori tersebut
init compass     // "Sesuatu"  itu adalah "Compass".
Ribet ya bahasanya.
Jika proses inisialisasi sukses akan ada notifkasi. Congratulations! Your compass project has been created bla bla bla.
Langkah selanjutnya, masuk ke direktori yang kita buat tadi. Biasanya ada C:/Users/NamaUsers/makmalf-compass. Di dalam folder tersebut, buat satu file html baru, namai saja index.html. Jangan lupa sisipkan code berikut di bagian <head> nya.
<link rel="stylesheet" href="stylesheet/screen.css" />
Kalau semuanya sukses, environment path nya akan seperti berikut.
Hanya satu file yang saya tambahkan, yaitu index.html

Enjoy Coding

But wait, selama coding jangan close Command Prompt-nya. Dan ketik dulu perintah ini:
compass watch   // auto compile setiap perubahan yang kita lakukan di /sass/namafile.scss
Ingat. 
Yang di edit harus yang di folder sass aja ya, soalnya sistem ini bersifat diktator. Segala perubahan yang dilakukan di file *css dalam folder stylesheet akan otomatis berubah lagi menyesuaikan dengan kondisi terakhir yang kita kerjakan di file *scss dalam folder sass. Tidak berlaku sebaliknya.
*****
Cukup sampai di sini dulu. Nanti kita lanjut ke bagian kedua yang akan membahas tentang Setting Sublime Text 2 agar support untuk kegiatan coding-codingan Sass.

Referensi

Berguna untuk mempelajari dasar Sass:

makmalf
Categories
Front End Pemrograman Pengetahuan

Design Web yang “Diam-Diam tapi Menghanyutkan”

Setelah sempat berhenti pas awal-awal kuliah dulu, sekarang saya mulai sering-seringnya lagi ngulik tampilan website, dan blog ini adalah salah satu korbannya. Tapi ada juga blog temen saya yang saya isengin tampilannya, seperti indoartedu.com, jurnalpribados.com, sama itajuita3.blogspot.com.
Sebenarnya, awal mulai serius belajar lagi front end development ini gegara saya diamanahi tugas untuk mengerjakan website ini. Oh ya, website ini berbasis WordPress yang masih sangat standard, jadi yang saya develop cuma sebatas front end-nya saja alias standard WordPress theme-nya saja. Proyek itu membuat saya belajar banyak tool-tool untuk website development, bahasa pemrogramannya juga, sampai tentang bagaimana seharusnya design web dibuat.
By the way, tentang design website. Saya sering browsing design-design untuk menambah inspirasi proyek-proyek front end development saya kedepannya. Kemudian saya tahu bahwa di dunia design web, sekarang sedang musimnya flat design dan responsive web design
Flat design itu terlihat simple, minimalist dengan warna-warna yang solid. Kelihatannya kalem, tapi di balik kalemnya itu, dia sering kali ditanami teknik CSS dan jQuery dengan code yang rumit dan panjang. Idenya simpel tapi punya nilai kreatifitas yang tinggi. Menurut saya, design web yang semacam itu adalah design web yang “diam-diam tapi menghanyutkan,” simpel tapi rumit.
Contohnya bisa dilihat di http://codepen.io/awesomephant/pen/mAxHz. Membuat efek long shadow seperti itu saja butuh code CSS3 yang rumit dan panjang.
Keliatannya sih simple
Kalau masalah responsive design, itu juga bisa jadi lebih rumit dan kompleks lagi kalau ingin diterapkan secara presisi dan mencapai pixel perfection. Tidak jarang, developer menggunakan nilai dalam persen dengan banyak angka dibelakang koma hanya untuk mendesign sebuah website yang responsive dengan tingkat kepresisian pixel yang nyaris sempurna.
Duh
But whatever. Ada yang bilang bahwa code is a poetry. Seperti bait puisi yang tersusun untuk menghasilkan karya seni yang indah. Walaupun prosesnya rumit tapi demi menghasilkan sesuatu yang indah? Ya, apa boleh buat.
Contoh lain dari design yang “diam-diam menghanyutkan” seperti itu tentu saja masih banyak. Saya pun sekarang sedang berusaha untuk menerapkannya di blog ini dan mungkin juga akan saya terapkan di proyek design lain yang akan datang. Amin. 
makmalf
Categories
Artikel Serius Pengetahuan

When Impossible Becomes Possible

Biasanya, yang aneh-aneh dan canggih-canggih yang suka ada di film-film itu, entar-entar malah bisa kejadian di masa depan 

Mendadak jadi keingetan, setelah baca artikel tentang  “traveling faster than light” di sini.

Dilihat-lihat, perilaku scientist jaman sekarang lebih mengejar pembuktian terhadap teori-teori yang pada awalnya dianggap bodoh dan cuma sebatas cerita-cerita di film sci-fi belaka. Kebetulan, saya juga pernah bahas panjang lebar yang berkaitan dengan ini di sini.

Lepas semuanya, mungkin memang benar kalau traveling faster than light cuma sebentuk imajinasi liar yang berasal dari otak-otak para pelaku indsutri film di Hollywood sana, tapi sebodoh apapun atau semustahil apapun imajinasinya itu, tuhan juga udah memberi sedikit ilmu pengetahuannya kepada manusia. Kita tahu, standar ‘sedikit’ bagi tuhan itu sangat jauh di atas standar ‘sedikit’ bagi kita, manusia pada umumnya, termasuk scientist juga.

So, is -traveling faster than light- possible? We’ll see. 

makmalf
Categories
Pengetahuan

Life is Full of Interruption

Saya sering berfikir ketika kita harus menentukan prioritas pada satu hal, padahal satu hal yang harus kita prioritaskan tersebut berada diantara sekian banyak hal yang kita dituntut untuk harus segera menyelesaikannya sebelum terlambat..
Tentang kewajiban, sebut saja sekolah, kuliah, terus mengejar gelar sarjana dan berakhir menjadi pekerja untuk menghasilkan uang bagi keluarga. Beberapa orang mungkin akan mampu melaksanakannya tanpa ada interupsi dari hal-hal yang lain yang bisa saja mengganggu kemulusan langkahnya.

Beberapa yang lainnya lagi, dengan berbekal alasan “mumpung masih hidup”, banyak sekali hal yang ingin dia lakukan dan capai di dunia ini, entah itu impian ataupun hobi yang menjalar menjadi ambisi. Tidak jarang, malah ambisi dan keinginan dia itu sesungguhnya bertentangan dengan kewajiban yang sedang dia jalani sekarang. Fokusnya terhadap kewajiban malah menjadi buyar dan beralih fokus pada suatu hal lain yang menjadi keinginannya untuk terus dia lakukan sampai menuju titik kepuasan. 
Life is full of interruption and complication
Saya pernah baca satu artikel di medium.com tapi entah arsip yang kapan. Isinya menceritakan tentang pengalaman penulis setelah lulus dari perkuliahannya dan mulai mencari kerja. Intinya dia ingin menyampaikan bahwa: 
memang benar kalau perkuliahan mengajarkan begitu banyak dasar-dasar keilmuan yang akan berguna untuk kita bekerja nanti. Tetapi masalahnya, mereka (perkuliahan) tidak pernah benar-benar memberikan kita lapangan pekerjaan. 
Sebagai mahasiswa dan manusia merdeka, kita dituntut untuk keluar, out of the box untuk mencari hal-hal baru yang menjadi suplemen segala ilmu yang telah kita dapat di ruang perkuliahan kemudian bekerja dengan layak selayak-layaknya sebagai seorang penyandang gelar sarjana. 
Berfikir positif terhadap hal apapun yang datang menginterupsi hidup kita, jadikan semua hal yang datang menginterupsi hidup kita itu adalah sebuah hal yang positif. Produktif dan berkembang. 
Banyak hal yang tidak kita dapatkan dibangku kuliah. Banyak hal yang tidak diceritakan oleh dosen di ruang kuliah. Dan sesungguhnya beralih prioritas dan malah memprioritaskan hal-hal lain, bisa jadi wajar saja, toh dalam rangka mengusir kebosanan sekalian menambah ilmu baru. Asal ingat, alihkan lagi prioritas pada kewajiban kita tepat pada waktunya. Karena memprioritaskan suatu hal juga bukan berarti kita mengacuhkan hal lain, apalagi hal lain itu telah menjadi kewajiban kita sebelumnya. 🙂
Sebuah catatan sebagai pengingat saya yang suatu saat nanti mungkin saja akan terlalu terlena menggeluti segala hal yang menjadi life’s interruption-nya.
makmalf
Categories
Front End Pengetahuan Wordpress

Blogger, Joomla vs WordPress

Dulu, ketika saya sedang mengerjakan proyek website ini, pertama yang saya pertimbangkan adalah pemilihan CMS yang nantinya akan digunakan oleh user/pengelola website ini selanjutnya. Ada dua CMS yang saya pertimbangkan, yang pertama Joomla dan yang kedua adalah WordPress. FYI, jauh waktu sebelum saya ngulik WordPress, CMS yang lebih dulu saya ulik adalah Joomla, tapi pada akhirnya, atas saran seorang teman juga, saya malah memutuskan memilih WordPress sebagai CMS website ini.
Kenapa? (IMHO)

UI WordPress lebih “ramah” untuk setiap pengguna termasuk pemula

Dibandingkan UI (User Interface) Joomla (saat itu masih versi 2.5 atau berapa –forget, sorry, my bad-), WordPress terlihat lebih user friendly, specifically, beginners friendly (termasuk saya yang pada waktu itu baru pertama kali mencoba WordPress). Joomla memiliki struktur menu yang lebih rumit dan bisa jadi, user nantinya akan sulit untuk bisa beradaptasi. UI WordPress yang lebih baik dan struktur menu yang lebih mudah difahami sehingga memberi UX (User eXperience ) yang lebih baik bagi user. 

WordPress becomes a “serious” CMS for nerds

Dibalik keramah-tamahan UI WordPress untuk para pemula. Seiring learning-by-doing sambil ngerjain proyek website itu, saya pun jadi tau ternyata wordpress juga menyimpan fitur-fitur tersembunyi seperti Post Type, Post Format, dan lain sebagainya. (Kunjungi codex.wordpress.org untuk info lebih lanjut.). Hal itu juga menjadi faktor pendukung yang lebih bagi para developer yang ingin menggali WordPress lebih jauh. 
Karena faktor yang seperti ini juga, membangun sebuah theme wordpress itu seperti kita sedang menambahkan fungsionalitas website-nya juga, bukan hanya front end tapi sampai back end-nya juga! Serius.

WordPress for multi purposes website

Awalnya, jaman dulu, sama halnya dengan Blogger/Blogspot WordPress masih terkenal hanya sebagai platform untuk Blogging saja. Entah sejak kapan WordPress memiliki self hosted version seperti ini. Yang jelas dengan banyak fitur yang dimilikinya (baik yang masih tersembunyi maupun yang nggak), WordPress udah jadi CMS yang bisa dipakai bukan cuma untuk website blogging saja, tetapi lebih jauh dari itu. 
Dan gegara terlanjur suka sama WordPress, saya jadi kepikiran untuk blogging pakai WordPress juga. Bagaimana tidak, fitur-fitur tersembunyi seperti yang saya sebut di atas itu, bisa kita kembangkan dan terapkan untuk blog kita agar lebih dinamis dan mampu “berbahasa” lebih. Tapi, gegara Blogger yang mempunyai fasilitias Google Friend Connect ini, ditambah dengan ratusan followers yang sudah saya miliki  sampai sekarang, akhirnya saya lebih memilih untuk tetap nge-Blog di di Blogger.
Have a long, life WordPress. Have a long life, Blogger. Grow up better Joomla!
makmalf
Categories
Artikel Serius Pengetahuan Tugas Sekolah

Praktik Industri (Cerita yang Belum Selesai)

Asap Hitam – Untuk Untung Harus Rugi
Saat ini saya sedang menjalani kuliah praktik industri di PTPN VII Bungamayang, Lampung. Di sini, hari-hari lebih terasa lama, 24 jam terasa tidak secepat ketika saya menjalani rutinitas di Bandung. Mungkin karena cuacanya, aktifitasnya yang itu-itu aja, dan mungkin juga karena saya gak sering kemana-mana lagi setelah pulang kerja. Soalnya, mau kemana juga, Bungamayang masih sepi, sangat sepi, dan kalo saya bilang juga, dia agak terisolasi dari kota-kota “lumayan” besar yang ada di Lampung. Ke Kotabumi aja saya harus melewati jalan tanah berdebu dengan waktu tempuh 2 jam. Well hell, relatively fucked up.

Tapi biarlah, toh saya bisa mendapat pengalaman dan banyak ilmu di sini. Kuliah juga tidak sesuram dulu yang hanya sibuk duduk di bangku kelas bersama dosen, berteori ria. Saya banyak dikenalkan dengan berbagai macam instrument yang dipakai di pabrik sini, mulai dari sistem kerjanya sampai reparasinya kalau kalau ada kerusakan. I have so much fun in this part.
Praktik industri juga ternyata gak melulu tentang aplikasi perkuliahan kita di dunia indsutri. Ada banyak karyawan juga di sini kan, berbagai golongan dan lulusannya pun beragam. Oh ya, lkondisi pabrik yang jauh berbeda dengan lab dan kenyamanan yang dimilikinya. Kita dituntut untuk bisa beradaptasi di lingkungan yang lebih real daripada sekedar cerita-cerita dosen di ruang kuliah atau error-error kecil sewaktu praktikum di lab dan asap dari resistor yang dilewati arus dengan ampere berlebih yang tidak seberapa apabila dibandingkan dengan asap yang keluar dari cerobong pabrik sini. Juga, yang lebih penting, beradaptasi dengan berbagai macam orang dengan logat-nya yang berbeda dari kita. Semua itu tidak kita dapat di ruang kuliah atau bahkan ruang praktikum sekalipun.
Enaknya, ketika ada lawan bicara baru dengan bahasa daerah yang sama, padahal ini bukan kampung kita yang penuh dengan logat bahasa yang berbeda jauh dari kita.
Menerima banyak pelajaran berarti di sini. 
makmalf
Categories
Artikel Serius Computing Cup 2011 Pengetahuan

Super Transparan!

Zaman dulu bahkan dahulu kala, orang tidak pernah bisa membayangkan bagaimana caranya bisa terbang dan berpindah dari satu benua ke benua lainnya dengan relatif cepat. Zaman dahulu kala, orang akan menganggap mustahil bahwa manusia bisa tetap berkomunikasi secara jelas walaupun jarak terpisah benua sekalipun. Dahulu kala, siapa yang akan menyangka juga bahwa akan ada satu benda yang tidak pernah bisa lepas dari kehidupan sehari-hari manusia zaman sekarang. Manusia-manusia zaman sekarang menyebut benda itu adalah handphone.
Dilatarbelakangi oleh takdir manusia sebagai makhluk sosial yang selalu butuh untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, perkembangan handphone ini pun semakin pesat. Tujuan orang-orang berkomunikasi kini bukan hanya untuk sekedar berkomunikasi semata, tetapi juga untuk saling bertukar informasi, bisnis, dan hiburan, sehingga terciptalah smartphone. 
are-we-smarter-than-our-smartphone
Sebelum lebih jauh lagi, saya akan menjelaskan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan smartphone di sini adalah handphone yang memiliki fungsi lebih dari sekedar mengirim sms dan telpon, tetapi, paling tidak ada fitur pemutar mp3 atau browser internet saja misalnya di handphone itu, maka saya menganggap handphone itu sudah bisa masuk ke dalam kategori smartphone.

But stop, tunggu dulu. Sesuai judul post, yang akan saya bahas disini bukanlah teknologi smartphone yang semakin smart dari waktu ke waktu itu. Tetapi yang lebih saya tekankan disini adalah efek dari smartphone terhadap gaya berkomunikasi orang-orang zaman sekarang ini.

Ok, kita sadar (atau bahkan sebagian orang tidak sadar) bahwa cara kita untuk berkomunikasi pun kini telah berbeda. Dengan banyak bermunculannya  situs-situs social media, seperti Facebook, microblogging Twitter, dan sejenisnya ditambah dengan akses yang sangat mudah karena didukung oleh smartphone pula, ternyata telah membuat orang-orang lebih terbuka dengan dunia luar, lebih terbuka dengan orang lain bahkan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Cara pandang kita terhadap apa yang disebut “berkomunikasi” pun kini telah  berganti. Secara praktik, kini kita lebih mengartikan “berkomunikasi” sebagai “berbagi”. Dengan berkomunikasi a la sekarang ini, kita lebih bebas untuk menyampaikan ide kita dan pendapat kita tentang satu hal dan membagikannya ke semua orang. Hanya dalam sekali klik dan status pun ter-update, semua orang yang mejadi friends dan followers akun kita akan secara mudah untuk membacanya dan bahkan memberikan komentar. Hebat? Tidak juga, karena itu hal biasa dizaman ini, semua orang bisa seperti itu, bahkan anak SD pun bisa.
Tentu saja ini merupakan suatu kebaikan bagi kita dan orang lain apabila kita bisa memilah dan memilih mana yang memang cocok dan mana yang memang tidak cocok untuk kita share ke ruang publik. Tapi tragisnya, sebagian bahkan mungkin juga kebanyakan orang tidak lagi memikirkan hal itu. Baik atau tidak baik, cocok atau tidak cocok, tetap saja mereka jadikan sebagai status akun social media mereka. Ya, dengan kata lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang didukung oleh media-media sosial yang banyak seperti sekarang ini, membuat karakter seseorang ketika berada di dunia maya menjadi lebih terbuka dan bahkan sangat terbuka. Saya sendiri sering melihat beberapa orang di dunia maya dengan sikap dan perilakunya yang seperti saya maksud itu. Sumpah serapah, rasa sebal terhadap seseorang atau sesuatu, mereka luapkan lewat status-status mereka dengan kalimat-kalimat yang memang tidak pantas untuk dikeluarkan ke ruang publik. Tentu saja hal itu adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar, karena ini berhubungan dengan nama baik dan pandangan orang lain terhadap mereka yang memposting status update seperti itu. Jadi seharusnya, kita tahu mana yang pantas untuk di tulis di facebook dan mana yang pantas untuk hanya ditulis di buku diary yang tersimpan rapi di laci lemari kamar kita yang terkunci rapat sehingga tidak akan ada seorang pun selain kita sendiri yang bisa membacanya.

Menghadapi realita seperti ini, saya berandai-andai suatu saat nanti ada sebuah filter super super kuat yang bisa memfilter status-status facebook atau twitter yang sama sekali tidak pantas untuk dibaca ramai-ramai seperti itu. Karena rasanya sudah muak sekali mata saya untuk melihat dan dengan terpaksa membaca status-status tak layak seperti itu di halaman home teratas facebook dan timeline twitter saya. *Ok, mungkin paragraf ini hanya curhatan saya belaka, mohon untuk anda abaikan.

Dengan teknologi informasi komunikasi yang ada sekarang ini, seharusnya kita bisa menggunakan teknologi ini secara bijak, dalam artian hanya untuk-untuk hal-hal yang bisa mendatangkan kebaikan bagi kita dan orang lain. Di dunia nyata dan di dunia maya pun kita masih memiliki aturan dan kita terikat dengan aturan itu. Seharusnya kita tahu bahwa di dunia manapun selalu ada etika tentang hal yang memang baik untuk dilakukan dan banyak juga hal yang memang jelek untuk dilakukan. Saya tidak perlu menjelaskan semuanya di sini karena saya yakin anda semua pasti tahu dan benar-benar memahami tentang semua hal itu.

Terakhir, saya menyimpulkan bahwa karakter kita dalam berinteraksi dengan orang lain seakan-seakan menjadi lebih terbuka dengan adanya situs-situs penyedia layanan sosial seperti itu. Dan kini, berkat smartphone yang semakin smart dengan dukungan banyaknya situs-situs jejaring sosial, paradigma berkomunikasi kita pun ternyata sudah benar-benar berubah. Cara kita berkomunikasi pun telah berubah menjadi lebih transparan dan bahkan SUPER TRANSPARAN!
Semoga kita bisa menyikapi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini sebijak mungkin.
Be smarter than our smartphone? | Yea, it’s a must!Smile
P.S. Maafkan saya apabila ada kata yang tidak berkenan di hati anda.
Artikel ini saya ikutsertakan pada ajang Computing Cup 2011 dengan hadiah jutaan rupih. Info lebih lanjut, silakan klik http://computingcup.ittelkom.ac.id
logocc
makmalf