Categories
Wordpress

Here Comes WordPress 5.0

WordPress is closing the 2018 with a big major update and with a fresh theme. So here comes the WordPress 5.0.

Thanks for the big update and here are some of highlight features:

Now we can make use of the WordPress editor more and better.

Make this 2 columns like this. No  MORE CSS HACKING.

text with image cover?
looks cool

text with media. looks so shiny

Latest Posts inside a post? Why not!

Thank you for making the web even better with no more 60 dollars premium wordpress theme

the best is going to be better
Categories
Artikel Serius Pemrograman Pengetahuan Tips Wordpress

Ketika “Hasil” Lebih Berharga Daripada “Proses”

Well, sebenarnya saya agak bingung mau memberi judul post ini apa. Tapi intinya, di post ini saya ingin berbagi pendapat mengenai beberapa celotehan kaskuser yang barusan saya baca di thread berikut.

http://www.kaskus.co.id/thread/5343ee1dffca17f3148b460a/nasib-web-developer-indonesia

Inti yang saya tangkap dari sekian banyak argument para commenter kenapa jasa web development di Indonesia sangat murah dari thread itu adalah:

Harga pasar web development rusak karena makin banyaknya anak-anak IT “jejadian” yang menawarkan jasa web development dengan harga MURAH (kisaran Rp. 200.000 – Rp. 400.000), padahal yang mereka lakukan hanyalah install WordPress dan edit theme premium yang udah dibikin NULLED.

Oke, memang miris, dan wajar saja beberapa kalangan IT “asli” yang udah lebih lama menggantungkan pendapatannya di bidang pekerjaan ini jadi sewot-sewotan dan seperti kebakaran janggut (kalo yang punya janggut.) karena semakin berkurangnya segmen pasar mereka. Padahal mereka telah bayar mahal untuk kuliah IT mereka, mereka telah cape-capean ngoding CMS sendiri untuk digunakan di web client mereka.

Masalah yang didebatkan pun merembet sampai ke:

CMS bikinan sendiri vs CMS public yang open source (Misal, WordPress, Joomla, dan Blogspot.)

Ini yang saya singgung di judul, di dunia kerja sering sekali kita mengalami waktu “ketika hasil lebih berharga daripada proses.” Kenapa seperti itu? Saya bilang seperti itu karena saya sudah mengalami sendiri pahitnya ketika terkadang mendapat bayaran kurang padahal pekerjaan yang dilakukan membutuhkan beberapa requirement yang lebih dan sisi teknis yang juga rumit. Saya juga mengalami manisnya, ketika terkadang untung mendapat bayaran mahal padahal yang saya kerjakan hanyalah instal WordPress dengan sedikit custom theme bawaan milik WordPress.

Beberapa hal di bawah ini menjadi penyebab kenapa hal itu bisa terjadi.

Mostly, client merupakan tipe orang yang result oriented

Tidak jarang ketika client yang sedang melakukan proses negosiasi menunjukkan perbandingan harga di lapak lain ketika harga yang kita tawarkan jauh lebih mahal daripada harga yang menjadi ekspektasi client bersangkutan.

Ini terjadi karena client tidak memahami sisi teknis dibalik setiap halaman website yang menjadi referensinya. Mayoritas client hanya melihat dari segi visual dan apa yang mereka terima saja. Jika website yang dibuat telah sesuai dengan keinginan dia, dia tidak peduli (bahkan masa bodoh) dengan CMS apa yang dipakai: buat dari awal kah atau hanya pakai WordPress (misal). Client juga nggak peduli ngerjain websitenya sampai belain begadang atau enggak. Ya client masa bodoh lah dengan semua itu.

Solusinya: kita sebagai pekerja seharusnya bisa menentukan requirement yang diperlukan. Jika sekiranya yang diinginkan oleh client hanya lah web company profile biasa tanpa ada fitur semacam blog yang lebih menuntut untuk website menjadi dinamis, kenapa harus ribet-ribet bikin CMS dari awal? bahkan tanpa instal WordPress, psd to static html template pun jadi. Client senang, kita pun nggak sewot-sewotan kalau misalnya dibayar 700rebu doang. 

Sebaliknya, kalau website yang diinginkan client ternyata membutuhkan kerumitan teknis yang lebih dan client keukeuh nawar harga 500rebu (padahal target minimal tarif kita adalah 3juta). Ya sudah, jangan diambil. Tapi beri dulu pengertian kepada client tersebut bahwa apa yang dia dapatkan akan sebanding dengan apa yang dia keluarkan untuk website jenis tersebut. Jangan lupa sisipkan link tutorial membuat website jenis tersebut via email, beri saran untuk bikin websitenya sendiri aja dulu, biar client macam ini tahu susah membuatnya website yang dia inginkan itu. Ujungnya bakal balik nanya-nanya lagi ke kita.

Dan saya yakin, tipe anak IT “jejadian”, kalo gak niat belajarnya, gak akan pernah bisa kesampaian membuat website semacam itu. Misal, Vogue dan Time Magazine. Anyway, dua website itu memang pakai CMS WordPress tapi pasti udah dicustom sampai tingkat advance. Segmen pasar kita masih aman bros. Mesikpun gak harus coding CMS, hanya melakukan development plugin dan theme saja sudah lumayan mengurangi waktu yang tersita dibandingkan kita harus membuat custom CMS dari awal.

Kalo sudah mampu membuat requirement yang pas, pekerjaan pun bisa jadi lebih sederhana, dan kita pun bisa fokus mengembangkan fungsionalitas lainnya dari web yang si client bersangkutan itu inginkan. Simple. Nawar tarif 3juta ditebus 2,5juta juga kita bisa lebih bersyukur kan, gak akan sewot-sewotan. :))

Intinya, pegang saja pemahaman bahwa client adalah tipe orang yang result oriented. Idealism is not required. Idealisme cukup digunakan sewaktu kita kuliah bikin tugas akhir dan/atau skripsi saja lah. :))

Mostly, client tidak memperhitungkan atau bahkan tidak tahu bahwa ada biaya operasional dan berbagai macam tool yang dibutuhkan untuk membuat sebuah website


Seperti internet, buku referensi, laptop, milimeter blok untuk membuat wireframe design, sampai Adobe Photoshop (jika yang digunakan bukan bajakan) untuk merancang tampilan front end. Bahkan client pun pasti nggak akan kepikiran biaya berobat kita karena sakit terlalu sering begadang ngoding bikin custom CMS sendiri untuk website-nya. :))

Tapi, seperti masalah yang dibahas oleh TS thread kaskus itu. Yang menjadi masalah utama kenapa harga untuk jasa development di Indonesia sangat jauh di bawah negara lainnya yaitu: Isu legalitas

Jujur saja dan menjadi asumsi umum juga bahwa -misal- Adobe Photoshop yang kita gunakan untuk mendesign halaman web adalah bajakan. Artinya, cost of production untuk aplikasi tersebut tidak lagi menjadi bahan perhitungan harga akhir dari jasa development sebuah website. Di samping itu, makin merebaknya IT “jejadian” yang menggunakan theme dan plugin premium bajakan, makin menambah suram saja harga jasa web development kita.
Gegara ini pun, banyak dari rekan-rekan kita sesama web developer yang lebih tertarik untuk membuka lapak online-nya di luar negeri. Dengan asumsi bahwa client di sana lebih “pintar” dan memahami biaya operasional dari semua tool yang kita butuhkan untuk membangun sebuah website.
Solusinya: seperti yang telah disinggung di atas. Mulai coba bermain proyek di mata uang dollar. Membuat (misal) WordPress Theme premium yang banyak dengan fitur yang advanced kemudian pasang lapaknya di Theme Forest. Dan mulai mempertimbangkan untuk mencari rekan satu tim dengan konsep pemisahan bagian pekerjaan. Bentuk tim dengan anggota paling tidak marketing, designer, dan kamu sebagai programmernya agar kamu bisa fokus mengembangkan fitur yang advanced sesuai imajinasi kamu. Bermain di mata uang dollar, tentunya saingan lebih banyak, harga juga lebih kompetitif tapi tetap masuk akal. 

Client yang pro akan bekerjasama dengan developer yang pro juga

Seharusnya kalau kita seorang developer yang pro, artinya mengerjakan apa yang diinginkan client dengan lunas dan tuntas sesusai kesepakatan, harusnya client tersebut akan menjadi consumer tetap kita. Client itu pun akan merekomendasikan kita apabila suatu saat rekan-rekannya ingin dibuatkan website juga. Dan client pro yang saya maksud di sini adalah client yang memang telah benar-benar menyiapkan budget yang pantas dengan jenis website yang dia inginkan. Client pro seperti ini, sesuai dengan pengalaman saya, bisa berasal dari perusahaan atau sesama freelancer di bidang lain. Client jenis ini biasanya merupakan client yang pintar, penuh perhitungan matang, dan pengetahuan teknis mendasar yang cukup terhadap jenis web yang dia inginkan. Dia seminimalnya memiliki konsep yang matang tentang apa yang harus ada dalam websitenya tersebut.
Masalahnya, kebanyakan, client seperti ini sangat jarang melirik developer-developer skala kecil, apalagi freelancer anak kemarin sore yang ngoding html+css aja masih terbata-bata. Kalo nggak rajin jemput bola, jangan harap, freelancer yang tidak memiliki eksistensi kuat di dunia maya bisa mendapatkan proyekan ideal seperti ini. Ya memang itu masalahnya. Eksistensi freelancer apalagi yang perseorangan masih kalah telak dibanding perusahaan-perusahaan yang memang fokus bergerak di bidang web development.
Solusinya: cobalah aktif di dunia maya, membuat berbagai macam publikasi online tentang hal-hal yang berkaitan dengan web development, website pribadi, resume dan portfolio online, ngetweet yang berkualitas, it takes time and so much effort sih pasti. Tapi minimal, ketika seseorang mengetikkan “web developer jakarta” di google misal, nama kamu ada di page one lah. Atau ketika teman kamu mengetikkan nama lengkap kamu di google, seminimalnya yang banyak muncul adalah beberapa situs yang merujuk kamu adalah sebagai web developer, jangan akun social media melulu. :))
***
Intinya, memenuhi keinginan client secara berkualitas itu adalah satu-satunya hal yang menjadi fokus kita dalam mengerjakan proyek website-nya. Jangan mentang-mentang mampu membuat custom CMS sendiri jadinya malah setiap proyekan kamu harus membuat custom CMS sendiri, ya itu juga salah. Tentukan requirement aja sih, kalo websitenya gak sampe seribet https://www.google.com, jangan gengsi pake CMS public lah. Kalo kamu beralasan pake CMS public yang open source gitu security-nya gak bagus. Ah masa? White House juga pake Drupal kok, berarti kasian dong developernya cupu dan webnya gampang dijebol. Tuh kan. :))
makmalf
Categories
Tips Wordpress

Hal-Hal yang Sebaiknya Ada dalam Dokumentasi Website yang Anda Berikan Kepada Klien

Setelah pembuatan website selesai, apabila tidak ada di kontrak, tentunya kita tidak ingin jika setiap ada keperluan update konten website harus kita juga yang melakukan. Makanya, keberadaan dokumentasi atau tutorial harus diperhatikan dan dibuat sedetail mungkin agar user yang sekalipun awam bisa menggunakan dan mengelola websitenya dengan baik.

Sebagai pengingat, saya telah menulis beberapa hal yang harus ditambahkan dalam tutorial tersebut dalam Evernote saya. Tidak ada salahnya saya share di sini juga. 🙂

Website Detail

Di dalamnya berisi ID dan Password Cpanel, admin website, email admin, dan lain-lain. Pokoknya jangan sampai ada yang terlewat.

Pengelolaan Konten Website

Seperti pengaturan menu, publishing dan editing konten, komentar pengunjung, kategori, dan tags, serta slideshow (bila ada). Pengelolaan media seperti gambar, video, dan sebagainya. Dan jangan lupakan juga pengaturan widgets dan halaman-halaman lainnya, seperti halaman kontak dan lain sebagainya.

Editing Tampilan Website

Kalau websitenya menggunakan WordPress, silakan sediakan tutorial perubahan tampilan dasar yang tersedia di menu theme – appearances saja, seperti mengubah logo, background website, dan palet warna. Tidak perlu memberikan tutorial CSS3 segala, karena kalau itu, cukup kita saja yang tahu. :))

User Management

Seperti cara mengubah password dan ID. Dan menambahkan link akun social media juga kalau ada.

…. dan Sedikit Hal-Hal Teknis

Seperti backup, eksport, dan import konten. Oh ya, menambahkan Plugin juga. Kalau backup dan import database mySQL? Saya rasa sih itu tidak perlu. Terlalu tricky juga kalau harus dilakukan oleh orang awam.
makmalf
Categories
Pemrograman Tips Wordpress

WordPress: Mengatasi Gagal dan Redirect ke Halaman 404 pada Saat Update/Publish Post

Kronologisnya, pada saat saya ingin melakukan publish post, saya klik tombol publish seperti biasa, publish post malah gagal dan halaman langsung redirect ke 404. Begitu juga ketika saya ingin melakukan update terhadap post yang terlebih dulu dipublish. Masalah ini terus berulang setiap saya ingin melakukan update/publish post.

Setelah saya cari masalahnya, ternyata terdapat pada Plugin multilingual yang saya gunakan, MqTranslate. Jika plugin ini kita nonaktifkan, akan terlihat penambahan beberapa karakter, sebut saja semacam shortcode semacam ini:
<!–:en–>Text bahasa Inggris<!–:–><!–:id–>Text bahasa Indonesia<!–:–>

Itu berguna untuk memberi tahu sistem bahwa text yang terdapat di antara baris kode ini <!–:en–> ……… <!–:–> adalah text untuk ditampilkan dalam website versi Bahasa Inggris. Entah kenapa, karakter dalam kode tersebut membuat sistem tidak bisa melakukan update/publish post. Karena sebelumnya, saya sering menggunakan plugin ini dan semua tetap berjalan lancar. Baru kali ini saya mengalami hal seperti ini.

Berikut langkah-langkah yang saya lakukan untuk mengatasi error ini:

Deactivate MqTranslate.

– Masuk ke halaman Posts dan pilih post yang ingin di update.

Pada kolom judul post, hapus semua karakter yang di awali dengan <!– dan diakhiri dengan :en–> dan/atau :–>

– Update post berhasil.

– Menghapus MqTranslate dan menggantinya dengan PolyLang.

***

Sekilas tentang PolyLang, plugin ini memiliki sistem pengelolaan konten terpisah menurut versi bahasanya masing-masing. Dengan sistem pengelolaan terpisah seperti ini, maka penggunakan karakter <!–:en–> dan sejenisnya bisa dihindari, update/publish post gagal pun tidak pernah saya alami lagi.

makmalf
Categories
Artikel Serius Pengetahuan Tips Wordpress

Pahit Getir Menjadi Seorang WordPress Theme Freelancer

Menjadi seorang freelancer ternyata bukan hal yang mudah, meskipun bekerja dengan waktu yang bisa kita tentukan sendiri, tidak perlu ke kantor dengan berkemeja rapi. Tapi, tetap saja memiliki beberapa kesulitan tersendiri yang hanya bisa dicari dan diterapkan solusinya oleh diri kita sendiri.

Berawal dari pahit getir yang saya rasakan selama kurang lebih 1 tahun menjadi seorang freelancer, saya menemukan semacam rules yang seharusnya bisa digunakan disaat kita mengawali karir, khususnya untuk freelancer yang menjual jasa sebagai WordPress Theme Developer, just like what I’m doing.

Terlalu Murah Menentukan Harga

Dalam menentukan harga, saya memang melihat dulu dari sisi kerumitan produk yang diinginkan oleh client. Jika menurut saya itu mudah, maka saya jual murah, jika rumit maka saya jual mahal.

Seiring waktu, bertambah pengalaman dan ilmu pemrograman, permintaan client yang dulu saya bilang rumit kini menjadi mudah, dan yang dulu saya bilang mudah kini menjadi terlalu mudah. Saya mulai menemukan masalah, yaitu: adalah harga yang tidak ikut berubah. Dengan asumsi rata-rata ada 3 proyek yang saya tangani tiap bulan, alhasil pendapatan saya cenderung datar-datar saja, nyaris tidak ada peningkatan.

Just share:

  • Untuk jasa convert PSD to WordPress Theme, dulu sampai sekarang saya hanya pasang harga 500.000 – 800.000 rupiah.
  • Untuk jasa pembuatan website WordPress dari awal, dulu sampai sekarang saya hanya pasang harga 1.000.000 – 1.300.000 rupiah.

Dan ketika saya bertanya tentang masalah ini kepada seseorang yang sudah lebih dulu menjadi seorang freelancer di bidang yang sejenis. Dia menjawab seperti ini:

  • Untuk jasa convert PSD to WordPress Theme, 2.000.000 – 5.000.000 rupiah.
  • Untuk jasa pembuatan website WordPress dari awal, 5.000.000 – 12.000.000 rupiah.

Btw, harga sebesar itu dia pasang dari awal merintins karir. Well, you see, sangat tidak sebanding dengan pendapatan saya selama ini.

Dan beberapa hal yang saya pelajari dari masalah ini adalah:

  • Beberapa freelancer yang kita kenal (baik secara online maupun offline) bisa saja menjadi seorang tutor yang berguna bagi kita dalam menentukan harga.
  • Jangan pernah mematok harga dari tingkat kesulitan/kerumitan sebuah proyek. Tapi yang dipertimbangkan adalah waktu, biaya operasional (seperti internet, ongkos kalau harus ketemuan dengan client yang lokasinya jauh dari jangkauan kita), dan bila perlu, harga tools yang digunakan jika itu memang tidak gratis (seperti laptop, photoshop, dremweaver, etc).

Ditawar Sadis oleh Client (Kaskuser, baca: Di-afgan-in oleh Client)

Tidak jarang, client yang bersifat perseorangan juga meminta jasa saya untuk dibuatkan website pribadinya. Biasanya, tipe client yang seperti ini tidak mau keluar uang banyak hanya untuk sebuah website pribadi saja. Jadi tidak aneh jika harga yang sudah kita tawarkan malah ditawar lagi oleh dia secara habis-habisan, bahkan pernah sampai setengah harga.
Saya pun menemukan beberapa tips untuk menangani situasi seperti ini.
  • Yakinkan pada client bahwa harga yang dia keluarkan akan sebanding dengan apa yang dia akan dapatkan.
  • Tunjukkan portofolio website pilihan kita yang paling kita anggap bagus, sesuai dengan kebutuhan dia, dan sesuai dengan harga yang kita tawarkan.
  • Beberapa proyek dengan harga yang sangat jauh di luar batas standar harga sebenarnya, dalam beberapa situasi finansial yang mendesak, kadang terpaksa harus kita ambil. Jadi ya, ikhlaskan saja lah. 🙂
  • Jika harga sudah deal, meskipun itu sangat jauh di bawah standar, tetap kerjakan proyeknya dengan maksimal untuk hasil yang terbaik. Walau bagaimanapun, ujung tombak dari nama baik kita sebagai freelancer adalah pada hasil pekerjaan-pekerjaan yang telah kita lakukan sebelumnya.
Adapun hal-hal penting yang harus jadi pertimbangan kita dalam melakukan negosiasi:
  • Pertimbangkan kondisi finansial kita saat itu. Jika tidak terlalu mendesak dan tidak butuh tambahan uang, harga yang ditawar sadis oleh client lebih baik jangan kita ambil. Itu untuk mempertahankan kesan profesionalisme kita di mata client. 
  • Menurut saya, discount 20% masih sangat masuk akal, apalagi untuk proyek yang berbudget besar. Jangan sampai kita hiraukan, apalagi bisa menambah portofolio proyek-proyek besar yang telah kita kerjakan.
  • Client yang professional akan mempercayakan proyeknya pada orang yang professional juga. Jadi jika menemukan client yang sudah tidak professional bahkan dalam proses negosiasi, acuhkan saja. Dan bilang, “Maaf, saya tidak akan bekerja selama 2×24 jam untuk bayaran yang sama sekali tidak akan bisa menutupi biaya operasional saya untuk bekerja selama itu.
  • Tawarkan opsi lain yang less-feature seperti: “Pak, saya bisa ambil harga segitu tapi salah satu fitur yang bapak inginkan ini, (sebutkan fiturnya) sudah tidak lagi termasuk di dalamnya. (Jelaskan lagi alasannya bila perlu).”

Tidak Dibayar Tepat Waktu

Ini sangat sering terjadi, terutama untuk client yang tidak pernah melakukan offline meeting dengan kita. Jika hal ini terjadi dan sudah semakin berlarut-larut, beri pengertian pada client bahwa kita telah mengerjakan proyeknya sebaik mungkin dan menyelesaikannya sesuai deadline. Jika tetap tidak dibayar, berikut langkah-langkah yang biasa saya lakukan.
  • Buat super admin baru untuk kita gunakan, jaga-jaga jika client merubah password wp-admin nya karena berniat kabur. Jangan lupa, ganti password cPanel juga.
  • Tutup saja situsnya untuk sementara waktu sampai pembayaran dilunasi dan redirect ke 404 atau ke halaman notifikasi dan tulis “Site is under development, because there’s still a payment issue.” atau semacamnya. LOL
  • Beri pengertian pada client bahwa situs akan kembali dibuka dan password akan diberitahukan jika pembayaran sudah dilunasi.

Bekerja Melebihi Jam Aktif Kantor

Meskipun freelancer bisa dengan mudah menentukan jam kerja, tapi untuk beberapa situasi, seorang freelancer bisa saja bekerja lembur bahkan melebihi jam aktif kantor (8 jam = jam 9 pagi – 5 sore). Saya pun pernah mengalami hal seperti ini. Wajar memang, apalagi jika kita masih kuliah dan dituntut oleh rutinitas lain di luar rutinitas kita sebagai freelancer. Bahkan bekerja lembur seperti itu juga memang diperlukan ketika yang dijadikan patokan kita adalah adanya proyek lain yang sudah terlanjur masuk dalam waiting list
Jika waktu bekerja kita sudah sangat menyita waktu istirahat kita, atur lagi waktunya, dan buat semacam list of priorities. Mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu dan mana yang masih bisa ditunda.
makmalf
Categories
Front End Pemrograman Wordpress

Tutorial Menggunakan prettyPhoto di WordPress Theme

Menurut pengalaman saya, memasang prettyPhoto tanpa plugin di WordPress Theme buatan sendiri itu memang gampang-gampang susah. Butuh sedikit hacking dan pengetahuan PHP untuk bisa menerapkannya tanpa error di WordPress.

Berikut langkah-langkahnya.

Baca dahulu dokumentasinya

Supaya anda bisa memahami tutorial ini secara baik dan mengembangkan lagi fitur yang ditawarkan oleh prettyPhoto, silakan baca dokumentasinya terlebih dahulu secara lengkap.

Hapus jQuery Library bawaan WordPress

Edit file functions.php dan tambahkan baris kode ini.

if (!is_admin()) add_action("wp_enqueue_scripts", "my_jquery_enqueue", 11);
function my_jquery_enqueue() {
wp_deregister_script('jquery');
}

Kemudian tambahkan jQuery library versi yang anda inginkan di file header.php sebelum kode </head>. Contohnya.

<script src="http://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.8.2/jquery.min.js" type="text/javascript"></script>

Alih-alih menambahkan jQuery library di file functions.php, saya malah menambahkannya secara manual di header. Karena saya pernah menemukan ada beberapa jQuery plugin yang tidak bisa berjalan dengan jQuery library yang di include di file functions.php.

Setup Struktur Folder prettyPhoto

Copy semua isi folder prettyPhoto termasuk folder imagesnya. File CSS di folder css, file javascript-nya di folder js. Dan include semuanya di file header.php.
<link rel="stylesheet" href="<?php bloginfo('template_url'); ?>/css/prettyPhoto.css" type="text/css" media="screen"/>
<script type="text/javascript" src="<?php bloginfo('template_url'); ?>/js/jquery.prettyPhoto.js"></script>

Aktifkan prettyPhoto

Untuk mengaktifkan prettyPhoto tambahkan baris kode seperti di bawah ini pada file footer.php.
<script type="text/javascript" charset="utf-8">
  $(document).ready(function(){
    $("a[rel^='prettyPhoto']").prettyPhoto();
  });
</script>

Dan terapkan di gambar yang dikehendaki. Contohnya pada thumbnail seperti ini.

<?php if ( have_posts() ) : while ( have_posts() ) : the_post(); ?>
<?php $background = wp_get_attachment_image_src( get_post_thumbnail_id( $page->ID ), 'full' ); ?>
<a href="<?php echo $background[0]; ?>" rel="prettyPhoto">
<div class="per-item">
<?php if ( has_post_thumbnail() ) { the_post_thumbnail('thumbnail'); } ?>
<div class="type">
<?php the_title(); ?>
</div>
</div>
</a>
<?php endwhile; endif; ?>

Untuk mendapatkan URL attachment file nya, digunakan fungsi wp_get_attachment(); seperti di atas. Nama class ataupun div bisa anda modifikasi lagi sesuai kebutuhan.

Selesai

makmalf
Categories
Pemrograman Tips Wordpress

Option Theme Framework untuk WordPress Theme Development

WordPress Theme yang berbayar biasanya sudah menambahkan beberapa fitur seperti pengaturan layout, pemilihan warna, fitur-fitur jejaring social, dan masih banyak option lainnya yang bisa lebih mudah dilakukan oleh pengguna awam apabila WordPress Theme yang dipakai menerapkan Option Theme tersebut. 
Mengembangkan fitur backend semacam itu di WordPress bisa dimulai dari pengembangan Theme WordPress-nya dahulu. Untuk permulaan, bagi developer yang ingin mengembangkan fitur custom theme tersebut, WordPress Theme Customization API menyediakan pedomannya secara lengkap. Bahkan tanpa harus terlalu berkutat dengan ratusan baris kode PHP pun, kini Option Theme bisa kita terapkan kembangkan di dalam WordPress Theme kita hanya dengan bermodal beberapa framework di bawah ini.

Menggunakan framework di atas tentunya akan semakin memudahkan kita dalam proses pengembangan halaman admin WordPress. hanya memerlukan beberapa penyesuaian saja dengan Theme WordPress yang sedang kita kerjakan. More efficient, effective, and effortless.
Thanks, developer, you’ve made my time saved.
makmalf
Categories
Front End Pengetahuan Wordpress

Blogger, Joomla vs WordPress

Dulu, ketika saya sedang mengerjakan proyek website ini, pertama yang saya pertimbangkan adalah pemilihan CMS yang nantinya akan digunakan oleh user/pengelola website ini selanjutnya. Ada dua CMS yang saya pertimbangkan, yang pertama Joomla dan yang kedua adalah WordPress. FYI, jauh waktu sebelum saya ngulik WordPress, CMS yang lebih dulu saya ulik adalah Joomla, tapi pada akhirnya, atas saran seorang teman juga, saya malah memutuskan memilih WordPress sebagai CMS website ini.
Kenapa? (IMHO)

UI WordPress lebih “ramah” untuk setiap pengguna termasuk pemula

Dibandingkan UI (User Interface) Joomla (saat itu masih versi 2.5 atau berapa –forget, sorry, my bad-), WordPress terlihat lebih user friendly, specifically, beginners friendly (termasuk saya yang pada waktu itu baru pertama kali mencoba WordPress). Joomla memiliki struktur menu yang lebih rumit dan bisa jadi, user nantinya akan sulit untuk bisa beradaptasi. UI WordPress yang lebih baik dan struktur menu yang lebih mudah difahami sehingga memberi UX (User eXperience ) yang lebih baik bagi user. 

WordPress becomes a “serious” CMS for nerds

Dibalik keramah-tamahan UI WordPress untuk para pemula. Seiring learning-by-doing sambil ngerjain proyek website itu, saya pun jadi tau ternyata wordpress juga menyimpan fitur-fitur tersembunyi seperti Post Type, Post Format, dan lain sebagainya. (Kunjungi codex.wordpress.org untuk info lebih lanjut.). Hal itu juga menjadi faktor pendukung yang lebih bagi para developer yang ingin menggali WordPress lebih jauh. 
Karena faktor yang seperti ini juga, membangun sebuah theme wordpress itu seperti kita sedang menambahkan fungsionalitas website-nya juga, bukan hanya front end tapi sampai back end-nya juga! Serius.

WordPress for multi purposes website

Awalnya, jaman dulu, sama halnya dengan Blogger/Blogspot WordPress masih terkenal hanya sebagai platform untuk Blogging saja. Entah sejak kapan WordPress memiliki self hosted version seperti ini. Yang jelas dengan banyak fitur yang dimilikinya (baik yang masih tersembunyi maupun yang nggak), WordPress udah jadi CMS yang bisa dipakai bukan cuma untuk website blogging saja, tetapi lebih jauh dari itu. 
Dan gegara terlanjur suka sama WordPress, saya jadi kepikiran untuk blogging pakai WordPress juga. Bagaimana tidak, fitur-fitur tersembunyi seperti yang saya sebut di atas itu, bisa kita kembangkan dan terapkan untuk blog kita agar lebih dinamis dan mampu “berbahasa” lebih. Tapi, gegara Blogger yang mempunyai fasilitias Google Friend Connect ini, ditambah dengan ratusan followers yang sudah saya miliki  sampai sekarang, akhirnya saya lebih memilih untuk tetap nge-Blog di di Blogger.
Have a long, life WordPress. Have a long life, Blogger. Grow up better Joomla!
makmalf